Stinghaze terbentuk pada April 2017, berasal dari kata ‘Sting’ yaitu Dosting (Dosis Tinggi) dan ‘Haze’ diambil dari lagu Jimmy Hendrix berjudul Purple Haze. Konsep awal dari band Stinghaze ini adalah memainkan musik heavy rock tahun 70an yang terinfluens oleh Led Zeppelin, Black Sabbath dan juga Deep Purple. Berawal dari Yoga (Lead Gitar) dan Farhan (Mantan Drumer) mengenyam pendidikan di sebuah universitas yang sama dan memiliki ketertarikan dalam bermusik, Yoga dan Farhan menggaet Bowo, Nisfhi dan Rei untuk membuat sebuah grup band bersama. Dalam perjalanannya sampai dengan sekarang, sudah ada beberapa kali pergantian personil yang membuat band ini berubah formasi menjadi, Panji (Vokal), Yoga (Lead Gitar), Rei (Gitar), Fikar (Bass), dan juga Karizky (Drum).

Pada 31 Januari 2020 sebuah kumpulan karya yang menjadi salah satu resolusi Stinghaze di tahun kemarin akhirnya selesai, EP yang berjudul “Rekam Persuasif” akan hadir di layanan pemutar musik digital seperti Spotify, Apple Music, iTunes, Joox, Deezer, Soundcloud, Band camp dan lain-lain. Dalam mini album perdana ini, Stinghaze menyajikan 5 trek lagu yaitu, Distorsi, Genosida, Intrik, Bungkam, dan Gusar.Stinghaze sebagai band pada praktiknya menggunakan musik sebagai media untuk mengajak para pendengarnya untuk sadar bahwasannya ada sebenarnya masalah sosial di sekitar yang perlu diingat dan diketahui oleh banyak orang.

Dengan musik Rock dan bahasa yang lugas, band yang bergenre Heavy Rock ini berusaha untuk memberikan pesan tersirat bagi pendengarnya yang mungkin memiliki rasa “sama” dalam segi musik ataupun kepekaan terhadap isu sosial.  Dengan mengusung judul “Rekam Persuasif” Stinghaze berusaha mengajak para pendengarnya untuk peka dalam isu sosial yang disajikan dalam bentuk audio.

“Setidaknya orang-orang bisa merasakan apa yang kami anggap meresahkan dalam isu sosial yang sering kami bahas sehari hari, seperti lagu Distorsi yang kami buat pada saat gencar-gencarnya musik pop di tanah air mulai kembali medapatkan sorotan dan banyak orang yang menganggap musik rock telah mati. Lagu Genosida yang menceritakan tentang terbunuhnya Hak Asasi Manusia. Lagu intrik, yang menceritakan tentang pemilu yang dibuat berdasarkan asumsi semata tentang apa yang akan terjadi pada”PemilihanPresiden 2019″. Bungkam yang menceritakan tentang isu hoax dan sosial media, dan juga Gusar yang menceritakan tentang hiruk-pikuknya kejadian di 23-24 September 2019 lalu mengenai penolakan RUU KUHP”.

Ada beberapa pengalaman menarik proses membuat mini album ini. Hampir semua lirik lagu (kecuali Distorsi) dibuat dalam lingkungan yang jauh dari music Rock, vokalis (Panji) pada saat itu bekerja di sebuah cafe milik musisi duo Endah n Rhesa yang membuat sebuah perkumpulan atau komunitas Songwriting Club yang rutin diadakan di hari Senin, dari situ penulis lirik sekaligus sang vokalis membuahkan karyanya berkat beberapa Pekerjaan Rumah (PR) yang diberikan oleh Endah Widiastuti dan juga Rhesa Adhitya.

“Lagu bungkam itu merupakan lagu hasil dari PR yang diberikan mas Rhesa, waktu itu beliau memberikan pilihan gambar untuk dijadikan bahan menulis lagu. Pada saat itu, saya (Panji) memilih gambar sebuah keyboard yang di atasnya terdapat banyak sekali ranjau darat. Dari situ, saya beranggapan bahwa bukan hanya media saja yang terkekang idealismenya untuk menulis dan menyiarkan informasi. Malahan dengan adanya konvergensi media, banyak juga orang yang ingin menyalurkan idealismenya secara bebas padahal informasi itu adalah hoax. Tidak hanya di situ, saya juga merasa bahwa sosial media sangat fleksibel dalam penyebaran informasi yang ternyata hoax, seperti kasus penganiayaan seorang siswi SMP bernama Audrey di Pontianak yang lalu”.

Dalam pengerjaan mini album ini, Stinghaze juga berkolaborasi dengan seorang illustrator asal Semarang yaitu, Zulfajri MB. “Berawal dari perkenalan dalam sosial media Instagram, beliau bersedia untuk membantu kami dalam membuat Artwork hingga me-layout booklet mini album kami. Kami merasa sangat beruntung sekaligus terbantu dengan tangan beliau yang ajaib, beliau dapat merepresentasikan apa yang kami inginkan dalam bentuk visual”.

Proses rekaman mini album perdana ini berlangsung di Apache Music Studio, Bekasi. Membutuhkan waktu sekitar satu setengah tahun untuk merampungkan seluruh lagu mulai dari penulisan lirik hingga mastering akhir lagunya. “Proses merekam lagu dalam mini album ini juga tergolong melelahkan karena pada saat itu ada beberapa bagian yang diimprovisasi untuk menyempurnakan lagunya. Dalam perekaman lagu,  beberapa kali kami  harus menyesuaikan diri dengan keunikan masing-masing personil baru, sehingga kami harus mengulang untuk beradaptasi lagi dengan cara bermain yang kami mau”.

Rencana kedepannya setelah merilis EP ini Stinghaze akan membuat beberapa merchandise dan melangsungkan tur kebeberapa kota. “Kami ingin sekali tur kebeberapa kota guna untuk menyebarluaskan musik yang kami mainkan dan pesan dalam bentuk audio yang kami bawakan di atas panggung, kami belum tahu kota mana saja yang akan kami singgahi karena kami juga tergolong baru dalam skena musik di tanah air, semoga nanti setelah rilis album ini banyak temen-temen yang ngajakin manggung, khususnya di luar kota biar turnya sambil jalan-jalan. Seletah tur, kalo ada sisa budget kami akan membuat sebuah showcase dengan mengundang beberapa teman untuk main di acara hajatan kita ini”.

Email : stinghazejkt@gmail.com
Kontak : +62 882-1998-2529 (Deli)
Instagram : https://instagram.com/stinghazejkt?igshid=1jddy1da5ux09
Twitter : @stinghaze
Youtube : https://www.youtube.com/channel/UCAtEiUXr6rmgcjHhvIiyXyQ
Blog : https://stinghaze.bandcamp.com/
Spotify : https://open.spotify.com/artist/2ZsIAeVPbwI1lV0Ct4eO5K?si=NBNJATdKRjez0O-s8dPLNA

Don’t forget to follow us on www.eventsaurus.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *